Tata Cara Shalat Menurut Nabi
Muhammad SAW
(Hadist)
DISUSUN OLEH:
SINDI FERNANDA 15117693
1KA16
FAKULTAS ILMU KOMPUTER TEKNOLOGI INFORMASI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2017
<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>
<ins class="adsbygoogle"
style="display:block"
data-ad-format="fluid"
data-ad-layout-key="-fe+6b+2b-jv+sq"
data-ad-client="ca-pub-8203192250309768"
data-ad-slot="8020672120"></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>
PERMULAAN SHALAT
1. Memperbaiki (menyempurnakan) wudhu’,
yaitu mengerjakan wudhu sebagaimana yang diperintahkan Allah melalui
firman-Nya,
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu
ingin mendirikan shalat maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku dan
usaplah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai kedua mata
kaki.” (QS, Al-Maidah : 6),
Nabi saw bersabda, “Tidak diterima shalat kecuali
dalam keadaan suci.”, dalam riwayat lain “Allah tidak menerima shalat
salah satu diantara kalian ketika berhadats sehingga ia berwudhu.”
(HR. Bukhari Muslim dari Abu Hurairah ra)
2. Orang yang shalat harus menghadapkan
wajahnya ke kiblat, yaitu Ka’bah dimana saja dia berada dengan badannya dengan
niat dalam hatinya mengerjakan shalat yang dikehendaki dari (shalat) fardhu
atau (shalat) sunat.
Dari Abu Hurairah ra berkata,
“Sesungguhnya Nabi saw bersabda, “Jika engkau bangkit hendak shalat, maka sempurnakanlah
wudhu’ kemudian menghadaplah ke kiblat lalu bertakbirlah,”
(HR. Bukhari Muslim),
3. Membaca takbiratul ihram, dengan
mengucapkan, “Allahu Akbar” seraya mata memandang tempat sujudnya. Dari ‘Aisyah
ra berkata, “Adalah Rasulullah saw jika membuka shalat dengan membaca
takbiratul ihram,”
(HR. Muslim)
Dari Anas bin Malik ra berkata,
“Rasulullah bersabda, “Apakah sebabnya kaum-kaum itu mengangkat pandangannya ke
langit ketika shalat. Lalu Rasul mempertegas sabdanya itu dengan bersabda, ”Hendaklah
mereka berhenti dari (pandangannya ke langit) itu, atau pandangan mereka
dicabut.”
(HR. Bukhari)
4.
Mengangkat kedua tangannya ketika takbir sampai sejajar dengan kedua bahunya
atau sampai sekitar kedua telinganya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang
mengangkat tangan beliau bersamaan dengan takbir, di waktu lain sebelum takbir
dan pernah pula setelah bertakbir. Dalilnya di antaranya hadits-hadits berikut
ini:
– Bersamaan dengan takbir
Abdullah ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma berkata:
“Aku pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka
shalat dengan bertakbir, lalu beliau mengangkat kedua tangannya ketika
bertakbir, hingga beliau menjadikan kedua tangannya setentang (sejajar) dengan
kedua pundaknya….” (HR. Al-Bukhari no. 736)
Mengangkat tangan bersamaan dengan
bertakbir ini merupakan pendapat dalam madzhab Hanafiyah, juga pendapat
Asy-Syafi’i dan pendapat Malikiyah.
– Sebelum takbir
Ditunjukkan dalam hadits Abdullah ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhumajuga, ia berkata: “Adalah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bila
bangkit mengerjakan shalat, beliau mengangkat kedua tangannya hingga keduanya
setentang (sejajar) dengan kedua pundaknya, kemudian beliau bertakbir….” (HR. Muslim no. 860 dan Al-Bukhari dalam kitabnya Juz Raf’il Yadain)
– Setelah takbir
Sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Malik ibnul
Huwairits radhiallahu ‘anhu:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bila selesai bertakbir,
beliau mengangkat kedua tangannya hingga kedua tangannya sejajar dengan kedua
telinga beliau….” (HR. Muslim no. 863 dan Al-Bukhari dalam Juz Raf’il Yadain)
Bentuk Jari-Jari Dan Telapak
Tangan
Jari-jari direnggangkan, tidak terlalu terbuka dan
juga tidak dirapatkan. Berdasarkan hadits:
كان إذا قام إلى الصلاة قال هكذا – وأشار أبو عامر بيده ولم يفرج بين أصابعه ولم
يضمها
“Biasanya Nabi Shallallahu’alaihi
Wasallam jika shalat beliau begini, Abu Amir (perawi hadits) mengisyaratkan
dengan gerakan tangannya, beliau tidak membuka jari-jarinya dan tidak
merapatkannya” (HR. Ibnu Khuzaimah 459, dishahihkan Al Albani
dalam Shahih Ibni Khuzaimah)
5. Meletakkan kedua tangan di atas dada.
Dari Wail bin Hujr ra berkata, “Aku telah memperhatikan benar kepada shalat
Rasulullah saw, bagaimana cara ia shalat, maka aku melihat kepadanya, diletakakannya
tangannya yang kanan di atas belakang tangannya yang kiri, memegang pergelangan
tangan dan hasta tangan kiri itu,”
(HR. Abu Daud)
Wail bin Hujr pula ia berkata, “Pernah aku shalat
bersama-sama dengan Rasulullah saw, lalu diletakkannya tangan kanannya di atas
tangan kirinya di atas dada.”
(HR. Abu Bakar dan Khuzaimah)
“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam
meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya kemudian mengencangkan
keduanya di atas dadanya ketika beliau shalat” (HR,. Abu Daud 759, Al
Baihaqi 4/38, Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir 3322).
6. Disunnahkan membaca do’a istiftah (pembuka),
yaitu “Wajjahtu wajhiya lilladzii fathoros samaawaati wal ardho haniifam
muslimaw wa maa ana minal musyrikiin. Inna sholaati wa nusukii wa mahyaaya wa
mamatii lillaahi robbil ‘aalamiin, laa syariika lahuu wa bidzaalika umirtu wa
ana minal muslimiin.
(HR. Muslim dari Ali bin Abi Thalib ra)
dan dari Ibnu Umar ra berkata, bahwa ada seorang
sahabat yang menambahi do’a Rasul diatas dengan kalimat,
“Alloohu akbar
kabiiroo wal hamdulillaahi katsiiroo wasubhaanalloohi bukrotaw wa ashiilaa.”
Maka
Rasul bersanda,
“Siapakah yang
membaca kalimat begini dan begitu?”
Seorang
laki-laki menjawab,
“Saya ya
Rasulullah!”
Rasulullah bersabda,
“Aku kagum dengan kalimat itu dimana pintu langit
terbuka karena kalimat itu.”
(HR. Muslim)
atau dengan do’a, “Alloohumma baa’id bainii wa baina
khothooyaaya kamaa baa’adta baimal masyriq wal maghrib, Alloohumma naqqinii min
khothooyaaya kamaa yunaqqots tsaubul abyadhu minad danas. Alloohumma ighsilnii
min khothooyaaya bil maa-i wats tsalji wal barodi.” (HR. Bukhari Muslim dari
Abu Hurairah ra),
dan membaca fatihah bagi yang mampu, karena Nabi saw
bersabda, “Tidaklah sah shalat yang tidak membaca fatihah didalamnya.”
(HR. Bukhari Muslim dari Ubadah bin Shamith
ra)
<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>
<!-- thebeuads -->
<ins class="adsbygoogle"
style="display:inline-block;width:336px;height:280px"
data-ad-client="ca-pub-8203192250309768"
data-ad-slot="6996075503"></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>
Bagi yang belum bisa membaca fatihah boleh membaca
yang lainnya. Nabi saw bersabda, “Apabila kamu diperintah mengerjakan sesuatu,
maka lakukanlah darinya sesuai kemampuanmu.”
(HR. Bukhari Muslim dari Abu Hurairah ra),
dan mengucapkan sesudahnya “Amiin”. Nabi bersabda,
“Jika imam selesai membaca “Ghoiril maghzhuubi ‘alaihim wa ladh-dhoolliin” maka
ucapkanlah “Amiin” karena barangsiapa ucapannya tepat dengan ucapan malaikat,
maka dosa-dosa masa lalunya diampuni.”
(HR. Bukhari)
Dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda, “Bila imam
membaca “Amiin” maka imiin pulalah olehmu, karena malaikat mengaminkan beserta
aminnya imam. Maka barangsiapa yang sama aminnya dengan amin malaikat, maka
diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari Muslim)
Dalam riwayat lain Nabi saw seusai membaca “Ghoiril
maghdhuubi ‘alaihim waladh-dhoolliin” Maka beliau berkata, “Amiin” dengan
memanjangkan suaranya
(HR. At-Tirmidzi dan Abu Daud dari Wail bin Hujr
),
kemudian membaca surat yang mudah.dalam dua rakaat
pertama, jika shalat lebih dua rakaat maka rakaat berikutnya cukup membaca
Fatihah saja. Bahwasanya Nabi saw membaca Ummul Kitab (Alfatihah) dan dua
surat pada shalat zhuhur, dan pada rekaat berikutnya (dua rakaat terakhir)
dengan Ummul Kitab saja. Kadang-kadang beliau memperdengarkan Al-Qur’an kepada
shahabat (dalam shalatnya -yang jahriyah-)
(HR. Muttafaq ‘Alaih).
7. Ruku’ dengan membaca takbir “Alloohu Akbar”,
dengan mengangkat kedua tangan sejajar dengan kedua bahunya atau kedua
telinganya, kepalanya diluruskan dengan punggungnya, kedua tangannya diletakkan
di kedua lututnya dengan merenggangkan jari-jari (tangannya), serta thuma’ninah
dan mengucapkan,
“Subhaana rabbiyal azhiimi” dan yang utama diulang
tiga kali (HR. Abu Daud dan Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud ra)
atau lebih banyak, dan disunatkan jika menambahi
bacaan dengan “Subhaanaka Alloohumma wa bihamdika Alloohummaghfirlii.” (HR.
Bukhari Muslim dari Aisyah ra)
Dari Aisyah ra berkata, “Dan biasanya bila beliau
ruku’, maka beliau tidak mengangkat kepalanya dan tidak pula menundukkannya,
akan tetapi antara itu.”
(HR. Muslim).
8. Mengangkat kepala dari ruku’ (I’tidal),
dengan mengangkat kedua tangan sejajar dengan kedua bahu atau kedua telinga
dengan mengucapkan, “Sami’alloohu liman hamidah” baik ketika berjama’ah maupun
sendirian dan ketika sudah berdiri membaca, “Robbanaa walakalhamdu”
(HR. Bukhari Muslim dari Abu Hurairah ra)
atau “Robbana lakalhamdu mil’us samaawati wa mil’ul
ardhi wa mil’u maa syi’ta min syai-im ba’du.”
(HR. Muslim dari Abdullah bin Abi ‘Aufa)
atau “Robbanaa wa lakalhamdu hamdan katsiiroon
thoiyiban mubaarokan fiihi,”
(HR. Muslim)
Disunatkan dalam i’tidal meletakkan kedua tangannya diatas
dadanya seperti yang dilakukan sebelum ruku’ (sesudah takbiratul ihram) dan
boleh juga tidak.
Dari Wail bin Hujr dan Sahal bin Sa’ad ra, bahwasanya
Nabi saw setelah mengucapkan, “Sami’alloohu liman hamidah” dan mengangkat kedua
tangannya dan berdiri tegak hingga kembali semua tulang pada tempatnya seperti
semula.”
9. Sujud dengan membaca takbir “Alloohu Akbar”,
mendahulukan (meletakkan) kedua lututnya sebelum kedua tangannya, “Adalah Nabi
jika ia sujud, meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya.”
(HR. Abu Daud dan Tirmidzi dari Wail bin Hujr)
jika hal itu mudah dilakukan, apabila
sulit maka boleh sebaliknya dengan menghadapkan jari-jari kaki dan jari-ari
tangannya (dirapatkan) ke arah kiblat,
” Adalah Rasulullah saw jika ia sujud, lalu
diletakkannya kedua telapak tangan dan kakinya dan anak-anak jarinya ke
kiblat.”
(HR. Baihaqi dari Al-Bara’ in ‘Azib).
Dari Wail bin Hujr ra berkata, “Adalah Nabi saw
apabila ruku’ merenggangkan jari-jari tangannya, dan apabila sujud merapatkan
jari-jari tangannya.”
(HR. Al-Hakim)
Dan adalah sujud itu dengan tujuh anggauta, yaitu
jidat beserta hidung, dua (telapak) tangan, dua lutut, dan dua ujung jari-jari
kaki menghadap ke kiblat. Dari Ibnu Abbas ra berkata,
“Aku
diperintahkan sujud atas tujuh tulang, atas dahi dan beliau menunjuk
dengan tangannya atas hidungnya, dua tangannya, dua lututnya, dan ujung-ujung
jari kedua kakinya.“
(HR. Muttafaq ‘Alaih)
dengan mengucapkan, “Subhaana robbiyal a’laa wa
bihamdih” diulang tiga kali atau lebih, dan disunatkan menambahkan ucapan,
“Subhaanaka Alloohumma robbanaa wa bihamdika Alloohummaghfirlii.” Dari Aisyah
ra berkata, adalah Nabi saw memperbanyak bacaan tersebut (HR. Bukhari
Muslim)
Dari Ibnu Mas’ud ra berkata, Nabi saw bersabda, “Dan
bila sujud, maka membaca “Subhaana robbiyal a’la wa bihamdih” tiga kali, maka
sesungguhnya telah sempurna sujudnya, dan itulah sekurang-kurangnya.”
(HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
Dan di dalam sujud memperbanyak do’a, baik dalam shalat
wajib atau shalat sunat. Dari Ibnu Abbas ra berkata, Rasulullah saw
bersabda, “Ketahuilah bahwa aku dilarang membaca Al-Qur’an sewaktu ruku
atau sujud. Adapun ketika ruku’ maka agungkanlah Tuhan, dan ketika sujud maka
bersungguh-sungguhlah berdo’a, karena besar harapan do’amu dikabulkan.
(HR. Muslim)
Dalam sujud harus merenggangkan anggauta badan dari
lambungnya, dan perutnya dari kedua pahanya. Dari Anas ra berkata dari Nabi saw
bersabda, “Luruskanah badanmu ketika sujud dan janganlah salah satu diantaramu
menghamparkan kedua lengan tangannya sebagaimana anjing menghamparkan
tangannya.”
(HR. Bukhari Muslim)
Dari Barra’ bin ‘Azib ra, Rasul bersabda, “Apabila
engkau sujud maka letakkan kedua telapak tanganmu dan angkatlah kedua
sikutmu.”
(HR. Muslim).
10. Mengangkat kepala (bangun) dari sujud dan
membaca takbir, “Alloohu Akbar”, dengan duduk iftirasy yaitu menghamparkan
kakinya yang kiri (diduduki) dan menegakkan kakinya yang kanan menghadapkan
ujung jari kaki ke kiblat
(HR. Muslim dan Baihaqi dari Aisyah ra,.),
dan kedua tangan diletakkan diatas kedua lutut dan
membaca, “Robbighfirlii (Alloohummaghfirlii) warhamnii (wajburnii) wa ‘aafinii
wahdinii warzuqnii.”
(HR. Abu Daud da Tirmidzi dari Ibnu Abbas ra)
11. Sujud yang kedua dengan membaca takbir “Alloohu
Akbar”, dan melakukan sujudnya seperti sujud yang pertama.(9)
12. Bangun (mengangkat kepala) dari sujud membaca
takbir “Alloohu Akbar”, dan duduk sebentar yaitu duduk istirahah (istirahat),
dan ini sunat, jika ditinggalkan tidak mengapa, tidak ada bacaan atau do’a.
Kemudian berdiri untuk rekaat kedua dengan bantuan kedua lutut jika itu mudah
dilakukannya, jika sulit, maka boleh dengan bantuan tangan ke tanah (lantai)
kemudian membaca fatihah dan membaca apa (surat) yang mudah (bisa) dari Al-Qur’an,
kemudian melakukan apa yang telah dilakukan seperti pada rekaat pertama. (10).
13. Jika shalat itu shalat yang dua
rakaat seperti shalat Shubuh, Jum’at, atau shalat ‘Id, duduk (terakhir)nya
(bukan duduk iftirasy seperti ketika duduk diantara dua sujud atau duduk pada
dua rakaat pertama (tahiyat awal), yaitu kaki kiri diduduki dan kaki
kanan berdiri dan ujung jari kaki menghadap kiblat), diletakkannya tangan kanan
diatas paha yang kanan semua jari-jari di genggam kecuali jari telunjuk untuk
berisyarat tauhid, dan jika jari kelingking dan jari manis digenggam, ibu jari
(jempol) dan jari tengah di akadkan (dilingkarkan) dan memberi isyarat (tauhid)
dengan telunjuk itu lebih baik.
Dari Ibnu Umar ra berkata, “Sesunguhnya Rasulullah saw
apabila duduk untuk tasyahud, diletakkannya tangannya yang kanan diatas
lututnya yang kanan, dan diakadkan bilangan lima puluh tiga (huruf arab), dan
diisyaratkan dengan telunjuk.”
(HR. Muslim)
Mengisyaratkan dengan telunjuk ketika mengucapkan “Laa
Ilaaha -Illallooh-” (HR. Al-Baihaqi) Dari Ibnu Zubair ra, “Sesungguhnya Nabi
saw adalah ber-isyarat dengan telunjuk dan tidak menggerak-gerakkannya.”
(HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasa’i, Ibnu Hibban)
Dari Wail bin Hujr berkata, “Sesungguhnya Rasulullah
saw mengangkat anak jarinya (telunjuk ketika tasyahud), maka aku melihat ia
menggerak-gerakkanya, yang memanggil-manggil dengan jari itu.”
(HR. Ibnu Khuzaimah dan Al-Baihaqi)
Dari Wail bin Hujr ra berkata, “Sesungguhnya
Nabi saw meletakkan sikunya yang kanan diatas pahanya yang kanan,
kemudian diakadkannya jari-jarinya, yaitu kelingking dan yang mengirinya (jari
manis dan jari tengah), dan dibuatnya lingkaran dengan jarinya dengan ibu jari
(jempol)nya, lalu diangkat telunjuknya dan kulihat ia mengisyaratkan dengan
telunjuk itu.”
(HR. Al-Baihaqi),
dan meletakkan tangan kiri dan sikutnya diatas paha
yang kiri kmudian membaca tasyahud, yaitu “Attaahiyaatul mubaarokaatush
sholawaatuth thoiyibaatu lillaah……ilaa akhirihi
(sampai akhirnya)
(HR. Muslim)
Dari Ibnu Mas’ud ra berkata, Rasulullah saw menoleh
kepada kami lalu bersabda,”Apabila seorang dari kalian shalat, hendaklah
mengucapkan: “Attahiyaatu lillaah, wash-sholawaatu wath-thoiyibaat,
assalaamu’alaika aiyuhannabiyyu wa rohmatulloohi wa barookaatuh, assalaamu
‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin, asyhadu allaa ilaaha illallooh,
wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa Rosuuluh.“ Kemudian hendaklah memilih
do’a itu sesuai yang dia sukai lalu berdo’a dengan do’a itu.
(HR. Muttafaq ‘Alaih)
Kemudian membaca, ”Alloohumma sholli ‘alaa Muhammad wa
‘alaa aali Muhammad……ilaa akhirihi (sampai khirnya) fil ‘aalamiina innaka
hamiidummajiid.” Dari Fadholah bin ‘Ubaid ra berkata, Rasulullah saw
pernah mendengar seorang yang berdo’a di dalam shalatnya dan tidak
membaca shalawat atas Nabi, lalu beliau bersabda, “Jika diantara kamu shalat,
maka hendaklah memulai dengan memuji Tuhannya dan menyanjungnya kemudian
membaca shalawat atas Nabi saw kemudian berdo’a dengan do’a yang dia
sukai.”
(HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Al-Hakim)
Dari Abu Mas’ud ra berkata; Basyir bin Sa’ad bertanya
kepada Rasulullah saw, “Ya Rasulullah, Allah memerintahkan kami untuk
bershalawat kepada engkau, bagaiman cara kami mengucapkan shalawat atasmu?
Beliau diam sebentar dan berkata, “Ucapkanlah; Alloohummaa sholli ‘alaa
Muhammad, wa ‘alaa aali Muhammad kamaa shollaita ‘alaa Ibroohim……ilaa akhirihi
(sampai khirnya) fil ‘aalamiina innaka hamiidummajiid. Dan membaca salam
sebagaimana telah kamu ketahui”
(HR. Muslim)
Kemudian berdo’a minta perlindungan dari empat hal
yaitu, “Alloohumma innii a’uudzubika min ‘adzaabi jahannama wa min ‘adzabil
qobri wa min fitnatil mahyaa wal mamaati wamin fitnatil masiikhid dajjaal.”
Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw bersabda, “Ketika diantara kamu
sedang tasyahhud (Tahiyat), maka mintalah perlindungan kepada Allah dari empat
hal, Nabi berkata, “Alloohummaa innii a’uudzubika……(sampai akhir do’a).”
(HR. Muttafaq ‘Alaih)
Kemudian berdo’a lagi dengan do’a-do’a yang
dikehenddaki dari kebaikan dunia dan akhirat, dan apabila berdo’a untuk kedua
orang tua atau selain keduanya dari orang-orang muslim maka tidaklah mengapa.
Adalah hal itu dilakukan dalam shalat fardhu maupun sunat sama saja. Kemudian
setelah itu barulah salam dari sebelah kanannya dan ke kirinya dengan
mengucapkan “Assalaamu ‘alaikum wa rohmatullooh”
Dari Ibnu Mas’ud ra berkata, “Sesungguhnya Rasulullah
saw adalah ketika salam dari arah kanannya dan baru arah kirinya sehingga
terlihat putih pipinya seraya mengucap, “Assalaamu ‘alaikum wa
rohmatullooh.”
(HR. Abu Daud dengan sanad yang shahih)
Dari Wail bin Hujr ra berkata, “Aku pernah shalat
bersama Nabi saw, maka ketika dia salam ke arah kanannya mengucapkan,
“Assalaamu ‘alaikum wa rohmatulloohi wa barookaatuh” dan ke arah kirinya juga
mengucapkan “Assalaamu ‘alaikum wa rohmatulloohi wa barookaatuh”
(HR. Abu Daud dengan sanad yang shahih).
14.Jika shalat itu tiga rakaat seperti shalat Maghrib
atau empat rakaat seperti Zhuhur, ‘Ashar dan ‘Isya’, membaca tasyahud tersebut
beserta shalawat atas Nabi saw kemudian bangkit berdiri bertatakan kedua
lututnya dengan mengangkat kedua tangannya sejajar dengan bahu atau sekitar
kedua telinganya dengan mengucapkan “Alloohu Akbar” dan meletakkan keduanya
yaitu kedua tangannya di atas dadanya seperti dijelaskan sebelumnya dan membaca
fatihah saja. Jika pada rakaat ketiga dan keempat dalam shalat zhuhur
(misalnya) menambahkan dari al-Fatihah tidaklah mengapa.
Ketetapan ini sebagaimana petunjuk dari Nabi saw dari
riwayat Abi Sa’id ra.
Kemudian setelah membaca tasyahud (akhir) sesudah
rakaat ketiga dari maghrib dan sesudah rakaat keempat dari shalat Zhuhur, Ashar
dan ‘Isya’ sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya didalam shalat yang dua
rakaat, kemudian salam dari arah kanan dan arah kiri, dan beristighfar tiga
kali dan mengucapkan,
“Alloohumma antas salaam wa minkas salaam tabaarokta
yaa dzal jalaali wal ikroom”
(HR. Muslim dari Tsauban ra)
“Laa Ilaaha illalloohu wahdahu laa syariikalah,
lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-in qodiir”
(HR. Muslim dari Abu Hurairah ra)
“Alloohumma laa maani’a limaa a’thoita wa laa mu’thiya
limaa mana’tawa laa yanfa’u dzal jaddi minkaljad”
(HR. Muttafaq ‘Alaih dari Mughirah bin Syu’bah ra)
“Laa haulaa wa laa quwwata illaa billaah, laa
ilaaha illalloohu wa laa na’budu illaa iyyah, lahun ni’matu wa lahul fadhlu wa
lahuts tsinaa’ul husni, laa ilaaha illalloohu mukhlishiina lahud diini wa lau
karihal kaafiruun.”
Dan bertasbih tiga puluh tiga kali, bertahmid dan
bertakbir demikian pula, dan mengucapkan untuk menyempurnakan seratus,
“Laa ilaaha
illalloohu wahdahu laa syariikalahu lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa
kulli syai-in qoodiir.”
(HR. Muslim dari Abu Hurairah ra)
Dan membaca ayat kursi, al-Ikhlash dan surat
mu’awidzatain
sesudah selesai tiap-tiap shalat
(HR. Nasa’i, Ibnu Hibban dan Ath-Thabrani dari Abi
Amamah ra),
dan disunnatkan mengulangi masing-masing surat
tersebut tiga kali sesudah shalat fajar (Subuh) dan Maghrib. Telah diriwayatkan
beberapa hadits tentangnya dari Nabi saw, dan tiap-tiap dzikir itu hukumnya
sunat bukanlah fardhu.
Dan Allah lah yang telah memberikan taufik kepadaku.
https://muslim.or.id/15028-tata-cara-bersedekap-dalam-shalat.html
https://parapencarisyafaat.blogspot.co.id/2014/02/tata-cara-sholat-nabi-muhammad-saw.html