Monday, December 11, 2017

Struktur dan Penyajian Data dalam Komputer.

A.   PENGERTIAN FIELD, RECORD, DAN FILE
Data terdiri dari kumpulan simbol yang mempunyai arti tertentu. Simbol ini dapat berupa huruf, angka, dan spesial simbol seperti tanda titik(.), tanda koma(,), tanda jumlah(+), tanda kurang(-), tanda persen(%)... dll. Pada umumnya kita mengenal 26 buah simbol huruf, paling kecil dari data terdiri dari sebuah simbol huruf atau angka yang disebut dengan karakter atau digit, sedangkan sebuah spesial simbol disebut dengan spesial karakter. Kumpulan dari karakter yang membentuk suatu unit tertentu dan mempunyai arti tertentu dikenal dengan sebutan “Field”.

Contoh:
·         Nomor Induk Pegawai (NIP)
·         Nama Pegawai
·         Alamat
·         Dll.
Kumpulan dari Field-Field yang berbentuk suatu unit yang lengkap disebut dengan “Record”. Biasanya record terdiri dari field-field yang mempunyai hubungan satu sama lainnya.
Contoh:
Record pegawai akan terdiri dari field sebagai berikut:
·         NIP
·         Nama Pegawai
·         Alamat
·         Golongan
·         Jabatan
·         Bidang/bagian
·         Dll.
Kumpulan dari record yang sejenis dan sudah memiliki keterangan disebut dengan “File”.
Contoh:
·         File pegawai STMIK akan berisi semua record pegawai di lingkungan STMIK
·         File barang STMIK akan berisi semua record-record barang di lingkungan STMIK
·         Dll.

B.    Record Format
Menurut cara bagaimana suatu record bisa disimpan di dalam suatu tape atau disk, dapat ditulis macam-macam record format, yaitu:
1.      Fixed Unblocked
CIRI-CIRI:
      Semua logical record sama panjang
      Tiap data area (block-physical record) berisi satu logical record
      Logical record= Physical record




2.      Fixed Blocked
CIRI-CIRI:
      Semua logical record sama panjang
      Tiap area data berisi lebih dari satu logical record
      Semua physical block sama panjang
      Jumlah logical record dalam tiap block selalu sama

3.      Variable Unblock
CIRI-CIRI:
      Panjang tiap logical record tidak sama
      Panjang tiap physical record tidak sama
      Tiap data area (block) berisi satu logical record dan field khusus BL & RL

Ket:     BL= Block Length
                        RL= Record Length

4.      Variable Block
CIRI-CIRI:
      Panjang tiap logical record tidak sama
      Panjang tiap block juga tidak sama. Jumlah logical record dalam block juga bervariasi.
5.      Undefined
CIRI-CIRI:
      Tiap logical record tidak sama panjang
      Tiap block berisikan satu logical record
      Block dan Record length tidak ada

6.      Spanned
CIRI-CIRI:
      Panjang tiap physical record adalah sama
      Panjang tiap logical record tidak sama
      Satu logical record mungkin berada dalam lebih dari satu physical record

C.    Seputar Block pada Record
Dalam komputasi (khususnya transmisi data dan penyimpanan data), blok, terkadang disebut physical record, adalah urutan byte atau bit, biasanya berisi beberapa logical records, memiliki panjang maksimum, ukuran blok. Pengolahan data pada block bernama Blocking.




D.   Alasan Melakukan Block Terhadap Record
1.      Mengurangi tempattempat karena hanya disediakan key area dan gap untuk tiap block, bukan untuk setiap record. (satu gap panjangnya= 0.75 inch dan satu bisa menyimpan 800 karakter.)
2.      Mengurangi waktu pada saat membaca dan menuis suatu record, karena membaca dan menulis dilakukan untuk tiap block, sedang proses dilakukan untuk setiap record.

E.    Metode Pengaksesan
Merupakan file menyimpan informasi. Bila digunakan, informasi tersebut harus diakses dan dibaca ke memory. Terdapat beberapa cara mengakses informasi pada file, diantaranya :
1.      Sequential Access Method
Akses berurutan, akses data sangat lambat, karena pada data akan diurutkan akses serial satu persatu.
Contoh: Magnetic Tape
Data direkam secara digit pada media tape sebagai titik-titik    magnetisasi pada lapisan ferroksida. Magnetisasi positif menyatakan 1 bit, sedangkan magnetisasi negatif menyatakan 0 bit atau sebaliknya.
                                                
2.      Direct Access Method
Akses langsung       dapatkan data dari perangkat penyimpanan dengan langsung menuju ke tempat fisik berada di perangkat daripada harus secara berurutan mencari data di satu lokasi fisik.     Akses data relatif cepat, dibandingkan Sequential Access.     
Contoh: Hard Disk

o   Dilakukan pengaksesan terhadap harddisk untuk melihat dan menentukan di lokasi sebelah mana informasi yang dibutuhkan ada di dalam ruang harddisk.
o   Pada proses ini, aplikasi yang kita jalankan, Sistem operasi, sistem BIOS, dan juga driver-driver khusus (tergantung pada aplikasi yang kita jalankan) bekerja bersama-sama, untuk menentukan bagian mana dari harddisk yang harus dibaca.
o   Harddisk akan bekerja dan memberikan informasi di mana data/informasi yang dibutuhkan tersedia, sampai kemudian menyatakan, “Informasi yang ada di track sekian sektor sekianlah yang kita butuhkan.” Nah pola penyajian informasi yang diberikan oleh harddisk sendiri biasanya mengikuti pola geometris.
o   Yang dimaksud dengan pola geometris di sini adalah sebuah pola penyajian informasi yang menggunakan istilah silinder, track, dan sector. Ketika informasi ditemukan, akan ada permintaan supaya mengirimkan informasi tersebut melalui interface harddisk untuk memberikan alamat yang tepat (sektor berapa, track berapa, silinder mana) dan setelah itu informasi/data pada sector tersebut siap dibaca.
o   Pengendali program yang ada pada harddisk akan mengecek untuk memastikan apakah informasi yang diminta sudah tersedia pada internal buffer yang dimiliki oleh harddisk (biasanya disebut cache atau buffer).
o   Bila sudah oke, pengendali ini akan menyuplai informasi tersebut secara langsung, tanpa harus melihat lagi ke permukaan pelat itu karena seluruh informasi yang dibutuhkan sudah dihidangkan di dalam buffer.
o   Dalam banyak kejadian, harddisk pada umumnya tetap berputar ketika proses di atas berlangsung. Namun ada kalanya juga tidak, lantaran manajemen power pada harddisk memerintahkan kepada disk untuk tidak berputar dalam rangka penghematan energi. Papan pengendali yang ada di dalam harddisk menerjemahkan instruksi tentang alamat data yang diminta dan selama proses itu berlangsung, ia akan senantiasa siaga untuk memastikan pada silinder dan track mana informasi yang dibutuhkan itu tersimpan.
o   Nah, papan pengendali ini pulalah yang kemudian meminta actuator untuk menggerakkan head menuju ke lokasi yang dimaksud. Ketika head sudah berada pada lokasi yang tepat, pengendali akan mengaktifkan head tersebut untuk melakukan proses pembacaan. Mulailah head membaca track demi track untuk mencari sektor yang diminta. Proses inilah yang memakan waktu, sampai kemudian head menemukan sektor yang tepat dan kemudian siap membacakan data/informasi yang terkandung di dalamnya.
o   Papan pengendali akan mengkoordinasikan aliran informasi dari harddisk menuju ke ruang simpan sementara (buffer, cache). Informasi ini kemudian dikirimkan melalui interface harddisk menuju sistem memori utama untuk kemudian dieksekusi sesuai dengan aplikasi atau perintah yang kita jalankan.

 








3.      Random Access Method
Metode Akses Acak Akses acak Address Decoder akan menghasilkan data alamat yang akan diakses. Akses Data Cepat, lebih cepat dari Direct Access.     
Contoh: RAM.
 




























BAB IV
PENUTUP

A.   Kesimpulan
Dalam suatu file terdapat kumpulan dari record-record yang sejenis, dalam record terdapat dari kumpulan field-field yang saling berhubungan. Dalam format record terdapat berbagai macam format record menurut cara bagaimana suatu record dapat disimpan dalam suatu tape, diantaranya fixed blocking, fix unblocking, variable block, variable unblock, undifined, spanned. Alasan dalam melakukan block adalah agar dapat menghemat waktu untuk membaca ataupun menulis suatu  record dan juga untuk menghemat tempat menyimpan block. Merupakan file menyimpan informasi. Bila digunakan, informasi tersebut harus diakses dan dibaca ke memory. Terdapat beberapa cara mengakses informasi pada file, diantaranya : sequential access, direct access danrandom access.












DAFTAR PUSTAKA
people.cs.pitt.edu/~chang/156/08struct.html




Amalia  puspakameswara

Nadya berliana                   1ka16
                                     
Sindi fernanda

Friday, November 17, 2017

Tata Cara Shalat Menurut Nabi Muhammad SAW
(Hadist)







DISUSUN OLEH:
SINDI FERNANDA    15117693
1KA16
FAKULTAS ILMU KOMPUTER TEKNOLOGI INFORMASI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2017


<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>
<ins class="adsbygoogle"
     style="display:block"
     data-ad-format="fluid"
     data-ad-layout-key="-fe+6b+2b-jv+sq"
     data-ad-client="ca-pub-8203192250309768"
     data-ad-slot="8020672120"></ins>
<script>
     (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>


PERMULAAN SHALAT

1. Memperbaiki (menyempurnakan) wudhu’, yaitu mengerjakan wudhu sebagaimana yang diperintahkan Allah melalui firman-Nya,

 “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu ingin mendirikan shalat maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku dan usaplah  kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai kedua mata kaki.” (QS, Al-Maidah : 6),

Nabi saw bersabda, “Tidak diterima shalat kecuali dalam keadaan suci.”, dalam riwayat lain  “Allah tidak menerima shalat salah satu diantara kalian ketika berhadats sehingga ia berwudhu.” 
(HR. Bukhari Muslim dari Abu Hurairah ra)

2. Orang yang shalat harus menghadapkan wajahnya ke kiblat, yaitu Ka’bah dimana saja dia berada dengan badannya dengan niat dalam hatinya mengerjakan shalat yang dikehendaki dari (shalat) fardhu atau (shalat) sunat. 

Dari Abu Hurairah ra berkata, “Sesungguhnya Nabi saw bersabda, “Jika engkau bangkit hendak shalat, maka sempurnakanlah wudhu’ kemudian menghadaplah ke kiblat lalu bertakbirlah,” 
(HR. Bukhari Muslim),  

3. Membaca takbiratul ihram, dengan mengucapkan, “Allahu Akbar” seraya mata memandang tempat sujudnya. Dari ‘Aisyah ra berkata, “Adalah Rasulullah saw jika membuka shalat dengan membaca takbiratul ihram,” 
(HR. Muslim) 

Dari Anas bin Malik ra berkata, “Rasulullah bersabda, “Apakah sebabnya kaum-kaum itu mengangkat pandangannya ke langit ketika shalat. Lalu Rasul mempertegas sabdanya itu dengan bersabda, ”Hendaklah mereka berhenti dari (pandangannya ke langit) itu, atau pandangan mereka dicabut.” 
(HR. Bukhari)

4.   Mengangkat kedua tangannya ketika takbir sampai sejajar dengan kedua bahunya atau sampai sekitar kedua telinganya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang mengangkat tangan beliau bersamaan dengan takbir, di waktu lain sebelum takbir dan pernah pula setelah bertakbir. Dalilnya di antaranya hadits-hadits berikut ini:
– Bersamaan dengan takbir
Abdullah ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma berkata: “Aku pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka shalat dengan bertakbir, lalu beliau mengangkat kedua tangannya ketika bertakbir, hingga beliau menjadikan kedua tangannya setentang (sejajar) dengan kedua pundaknya….” (HR. Al-Bukhari no. 736)
Mengangkat tangan bersamaan dengan bertakbir ini merupakan pendapat dalam madzhab Hanafiyah, juga pendapat Asy-Syafi’i dan pendapat Malikiyah.
– Sebelum takbir
Ditunjukkan dalam hadits Abdullah ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhumajuga, ia berkata: “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bila bangkit mengerjakan shalat, beliau mengangkat kedua tangannya hingga keduanya setentang (sejajar) dengan kedua pundaknya, kemudian beliau bertakbir….” (HR. Muslim no. 860 dan Al-Bukhari dalam kitabnya Juz Raf’il Yadain)
– Setelah takbir
Sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Malik ibnul Huwairits radhiallahu ‘anhu:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bila selesai bertakbir, beliau mengangkat kedua tangannya hingga kedua tangannya sejajar dengan kedua telinga beliau….” (HR. Muslim no. 863 dan Al-Bukhari dalam Juz Raf’il Yadain)

       Bentuk Jari-Jari Dan Telapak Tangan
Jari-jari direnggangkan, tidak terlalu terbuka dan juga tidak dirapatkan. Berdasarkan hadits:
كان إذا قام إلى الصلاة قال هكذا – وأشار أبو عامر بيده ولم يفرج بين أصابعه ولم يضمها
“Biasanya Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam jika shalat beliau begini, Abu Amir (perawi hadits) mengisyaratkan dengan gerakan tangannya, beliau tidak membuka jari-jarinya dan tidak merapatkannya” (HR. Ibnu Khuzaimah 459, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibni Khuzaimah)
 5.   Meletakkan kedua tangan di atas dada. Dari Wail bin Hujr ra berkata, “Aku telah memperhatikan benar kepada shalat Rasulullah saw, bagaimana cara ia shalat, maka aku melihat kepadanya, diletakakannya tangannya yang kanan di atas belakang tangannya yang kiri, memegang pergelangan tangan dan hasta tangan kiri itu,” 
(HR. Abu Daud)  

Wail bin Hujr pula ia berkata, “Pernah aku shalat bersama-sama dengan Rasulullah saw, lalu diletakkannya tangan kanannya di atas tangan kirinya di atas dada.” 
(HR. Abu Bakar dan Khuzaimah)

“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya kemudian mengencangkan keduanya di atas dadanya ketika beliau shalat” (HR,. Abu Daud 759, Al Baihaqi 4/38, Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir 3322).

6.   Disunnahkan membaca do’a istiftah (pembuka), yaitu  “Wajjahtu wajhiya lilladzii fathoros samaawaati wal ardho haniifam muslimaw wa maa ana minal musyrikiin. Inna sholaati wa nusukii wa mahyaaya wa mamatii lillaahi robbil ‘aalamiin, laa syariika lahuu wa bidzaalika umirtu wa ana minal muslimiin. 
(HR. Muslim dari Ali bin Abi Thalib ra) 

dan dari Ibnu Umar ra berkata, bahwa ada seorang sahabat yang menambahi do’a Rasul diatas dengan kalimat,
 “Alloohu akbar kabiiroo wal hamdulillaahi katsiiroo wasubhaanalloohi bukrotaw wa ashiilaa.”
            Maka Rasul bersanda,
 “Siapakah yang membaca kalimat begini dan begitu?”
            Seorang laki-laki menjawab,
 “Saya ya Rasulullah!”
            Rasulullah bersabda,
“Aku kagum dengan kalimat itu dimana pintu langit terbuka karena kalimat itu.”  
(HR. Muslim)  

atau dengan do’a,  “Alloohumma baa’id bainii wa baina khothooyaaya kamaa baa’adta baimal masyriq wal maghrib, Alloohumma naqqinii min khothooyaaya kamaa yunaqqots tsaubul abyadhu minad danas. Alloohumma ighsilnii min khothooyaaya bil maa-i wats tsalji wal barodi.” (HR. Bukhari Muslim dari Abu Hurairah ra), 


dan membaca fatihah bagi yang mampu, karena Nabi saw bersabda, “Tidaklah sah shalat yang tidak membaca fatihah didalamnya.” 
(HR. Bukhari Muslim  dari Ubadah bin Shamith ra) 

<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>
<!-- thebeuads -->
<ins class="adsbygoogle"
     style="display:inline-block;width:336px;height:280px"
     data-ad-client="ca-pub-8203192250309768"
     data-ad-slot="6996075503"></ins>
<script>
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
</script>

Bagi yang belum bisa membaca fatihah boleh membaca yang lainnya. Nabi saw bersabda, “Apabila kamu diperintah mengerjakan sesuatu, maka lakukanlah darinya sesuai kemampuanmu.” 
(HR. Bukhari Muslim dari Abu Hurairah ra), 

dan mengucapkan sesudahnya “Amiin”. Nabi bersabda, “Jika imam selesai membaca “Ghoiril maghzhuubi ‘alaihim wa ladh-dhoolliin” maka ucapkanlah “Amiin” karena barangsiapa ucapannya tepat dengan ucapan malaikat, maka dosa-dosa masa lalunya diampuni.” 
(HR. Bukhari) 

Dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda, “Bila imam membaca “Amiin” maka imiin pulalah olehmu, karena malaikat mengaminkan beserta aminnya imam. Maka barangsiapa yang sama aminnya dengan amin malaikat, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” 
(HR. Bukhari Muslim) 

Dalam riwayat lain Nabi saw seusai membaca “Ghoiril maghdhuubi ‘alaihim waladh-dhoolliin” Maka beliau berkata, “Amiin” dengan memanjangkan suaranya 
(HR. At-Tirmidzi dan Abu Daud dari Wail bin Hujr ), 

kemudian membaca surat yang mudah.dalam dua rakaat pertama, jika shalat lebih dua rakaat maka rakaat berikutnya cukup membaca Fatihah saja. Bahwasanya Nabi saw membaca Ummul Kitab (Alfatihah)  dan dua surat pada shalat zhuhur, dan pada rekaat berikutnya (dua rakaat terakhir) dengan Ummul Kitab saja. Kadang-kadang beliau memperdengarkan Al-Qur’an kepada shahabat (dalam shalatnya -yang jahriyah-) 
(HR. Muttafaq ‘Alaih).


7.   Ruku’ dengan membaca takbir “Alloohu Akbar”, dengan mengangkat kedua tangan sejajar dengan kedua bahunya atau kedua telinganya, kepalanya diluruskan dengan punggungnya, kedua tangannya diletakkan di kedua lututnya dengan merenggangkan jari-jari (tangannya), serta thuma’ninah dan mengucapkan,
“Subhaana rabbiyal azhiimi” dan yang utama diulang tiga kali (HR. Abu Daud dan Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud ra)
atau lebih banyak, dan disunatkan jika menambahi bacaan dengan “Subhaanaka Alloohumma wa bihamdika Alloohummaghfirlii.” (HR. Bukhari Muslim dari Aisyah ra) 

Dari Aisyah ra berkata, “Dan biasanya bila beliau ruku’, maka beliau tidak mengangkat kepalanya dan tidak pula menundukkannya, akan tetapi antara itu.” 
(HR. Muslim).
8.   Mengangkat kepala dari ruku’ (I’tidal), dengan mengangkat kedua tangan sejajar dengan kedua bahu atau kedua telinga dengan mengucapkan, “Sami’alloohu liman hamidah” baik ketika berjama’ah maupun sendirian dan ketika sudah berdiri membaca, “Robbanaa walakalhamdu” 
(HR. Bukhari Muslim dari Abu Hurairah ra) 

atau “Robbana lakalhamdu mil’us samaawati wa mil’ul ardhi wa mil’u maa syi’ta min syai-im ba’du.” 
(HR. Muslim dari Abdullah bin Abi ‘Aufa) 

atau “Robbanaa wa lakalhamdu hamdan katsiiroon thoiyiban mubaarokan fiihi,” 
(HR. Muslim) 

Disunatkan dalam i’tidal meletakkan kedua tangannya diatas dadanya seperti yang dilakukan sebelum ruku’ (sesudah takbiratul ihram) dan boleh juga tidak. 
Dari Wail bin Hujr dan Sahal bin Sa’ad ra, bahwasanya Nabi saw setelah mengucapkan, “Sami’alloohu liman hamidah” dan mengangkat kedua tangannya dan berdiri tegak hingga kembali semua tulang pada tempatnya seperti semula.” 


9.   Sujud dengan membaca takbir “Alloohu Akbar”, mendahulukan (meletakkan) kedua lututnya sebelum kedua tangannya, “Adalah Nabi jika ia sujud, meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya.”  
(HR. Abu Daud dan Tirmidzi dari Wail bin Hujr)

 jika  hal itu mudah dilakukan, apabila sulit maka boleh sebaliknya dengan menghadapkan jari-jari kaki dan jari-ari tangannya (dirapatkan) ke arah kiblat,
” Adalah Rasulullah saw jika ia sujud, lalu diletakkannya kedua telapak tangan dan kakinya dan anak-anak jarinya ke kiblat.” 
(HR. Baihaqi dari Al-Bara’ in ‘Azib). 

Dari Wail bin Hujr ra berkata, “Adalah Nabi saw apabila ruku’ merenggangkan jari-jari tangannya, dan apabila sujud merapatkan jari-jari tangannya.” 
(HR. Al-Hakim) 

Dan adalah sujud itu dengan tujuh anggauta, yaitu jidat beserta hidung, dua (telapak) tangan, dua lutut, dan dua ujung jari-jari kaki menghadap ke kiblat. Dari Ibnu Abbas ra berkata,
 “Aku diperintahkan sujud atas tujuh tulang, atas dahi dan beliau menunjuk   dengan tangannya atas hidungnya, dua tangannya, dua lututnya, dan ujung-ujung jari kedua kakinya.“ 
(HR. Muttafaq ‘Alaih) 

dengan mengucapkan, “Subhaana robbiyal a’laa wa bihamdih” diulang tiga kali atau lebih, dan disunatkan menambahkan ucapan, “Subhaanaka Alloohumma robbanaa wa bihamdika Alloohummaghfirlii.” Dari Aisyah ra berkata, adalah Nabi saw memperbanyak bacaan tersebut (HR. Bukhari Muslim) 

Dari Ibnu Mas’ud ra berkata, Nabi saw bersabda, “Dan bila sujud, maka membaca “Subhaana robbiyal a’la wa bihamdih” tiga kali, maka sesungguhnya telah sempurna sujudnya, dan itulah sekurang-kurangnya.” 
(HR. Abu Daud dan Tirmidzi) 

Dan di dalam sujud memperbanyak do’a, baik dalam shalat wajib atau shalat sunat.  Dari Ibnu Abbas ra berkata, Rasulullah saw bersabda, “Ketahuilah bahwa aku dilarang membaca  Al-Qur’an sewaktu ruku atau sujud. Adapun ketika ruku’ maka agungkanlah Tuhan, dan ketika sujud maka bersungguh-sungguhlah berdo’a, karena besar harapan do’amu dikabulkan. 
(HR. Muslim) 

Dalam sujud harus merenggangkan anggauta badan dari lambungnya, dan perutnya dari kedua pahanya. Dari Anas ra berkata dari Nabi saw bersabda, “Luruskanah badanmu ketika sujud dan janganlah salah satu diantaramu menghamparkan kedua lengan tangannya sebagaimana anjing menghamparkan tangannya.” 
(HR. Bukhari Muslim) 

Dari Barra’ bin ‘Azib ra, Rasul bersabda, “Apabila engkau sujud maka letakkan kedua telapak tanganmu dan angkatlah kedua sikutmu.” 
(HR. Muslim).

10.  Mengangkat kepala (bangun) dari sujud dan membaca takbir, “Alloohu Akbar”, dengan duduk iftirasy yaitu menghamparkan kakinya yang kiri (diduduki) dan menegakkan kakinya yang kanan menghadapkan ujung jari kaki ke kiblat 
(HR. Muslim dan Baihaqi dari Aisyah ra,.), 

dan kedua tangan diletakkan diatas kedua lutut dan membaca, “Robbighfirlii (Alloohummaghfirlii) warhamnii (wajburnii) wa ‘aafinii wahdinii warzuqnii.” 
(HR. Abu Daud da Tirmidzi dari Ibnu Abbas ra)

11. Sujud yang kedua dengan membaca takbir “Alloohu Akbar”, dan melakukan sujudnya seperti sujud yang pertama.(9)

12. Bangun (mengangkat kepala) dari sujud membaca takbir “Alloohu Akbar”, dan duduk sebentar yaitu duduk istirahah (istirahat), dan ini sunat, jika ditinggalkan tidak mengapa, tidak ada bacaan atau do’a. Kemudian berdiri untuk rekaat kedua dengan bantuan kedua lutut jika itu mudah dilakukannya, jika sulit, maka boleh dengan bantuan tangan ke tanah (lantai) kemudian membaca fatihah dan membaca apa (surat) yang mudah (bisa) dari Al-Qur’an, kemudian melakukan apa yang telah dilakukan seperti pada rekaat pertama. (10).

13.    Jika shalat itu shalat yang dua rakaat seperti shalat Shubuh, Jum’at, atau shalat ‘Id, duduk (terakhir)nya (bukan duduk iftirasy seperti ketika duduk diantara dua sujud atau duduk pada dua rakaat pertama (tahiyat awal), yaitu  kaki kiri diduduki dan kaki kanan berdiri dan ujung jari kaki menghadap kiblat), diletakkannya tangan kanan diatas paha yang kanan semua jari-jari di genggam kecuali jari telunjuk untuk berisyarat tauhid, dan jika jari kelingking dan jari manis digenggam, ibu jari (jempol) dan jari tengah di akadkan (dilingkarkan) dan memberi isyarat (tauhid) dengan telunjuk itu lebih baik. 

Dari Ibnu Umar ra berkata, “Sesunguhnya Rasulullah saw apabila duduk untuk tasyahud, diletakkannya tangannya yang kanan diatas lututnya yang kanan, dan diakadkan bilangan lima puluh tiga (huruf arab), dan diisyaratkan dengan telunjuk.” 
(HR. Muslim) 

Mengisyaratkan dengan telunjuk ketika mengucapkan “Laa Ilaaha -Illallooh-” (HR. Al-Baihaqi) Dari Ibnu Zubair ra, “Sesungguhnya Nabi saw adalah ber-isyarat dengan telunjuk dan tidak menggerak-gerakkannya.” 
(HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasa’i, Ibnu Hibban) 

Dari Wail bin Hujr berkata, “Sesungguhnya Rasulullah saw mengangkat anak jarinya (telunjuk ketika tasyahud), maka aku melihat ia menggerak-gerakkanya, yang memanggil-manggil dengan jari itu.” 
(HR. Ibnu Khuzaimah dan Al-Baihaqi)  

Dari Wail bin Hujr ra berkata, “Sesungguhnya  Nabi saw meletakkan sikunya yang kanan diatas pahanya yang kanan, kemudian diakadkannya jari-jarinya, yaitu kelingking dan yang mengirinya (jari manis dan jari tengah), dan dibuatnya lingkaran dengan jarinya dengan ibu jari (jempol)nya, lalu diangkat telunjuknya dan kulihat ia mengisyaratkan dengan telunjuk itu.” 
(HR. Al-Baihaqi), 

dan meletakkan tangan kiri dan sikutnya diatas paha yang kiri kmudian membaca tasyahud, yaitu “Attaahiyaatul mubaarokaatush sholawaatuth thoiyibaatu lillaah……ilaa akhirihi 
(sampai akhirnya) 
(HR. Muslim) 

Dari Ibnu Mas’ud ra berkata, Rasulullah saw menoleh kepada kami lalu bersabda,”Apabila seorang dari kalian shalat, hendaklah mengucapkan: “Attahiyaatu lillaah, wash-sholawaatu wath-thoiyibaat, assalaamu’alaika aiyuhannabiyyu wa rohmatulloohi wa barookaatuh, assalaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin, asyhadu allaa ilaaha illallooh, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa Rosuuluh.“ Kemudian hendaklah memilih do’a itu sesuai yang dia sukai lalu berdo’a dengan do’a itu. 
(HR. Muttafaq ‘Alaih) 

Kemudian membaca, ”Alloohumma sholli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad……ilaa akhirihi (sampai khirnya) fil ‘aalamiina innaka hamiidummajiid.” Dari Fadholah  bin ‘Ubaid ra berkata, Rasulullah saw pernah mendengar seorang yang berdo’a di dalam shalatnya  dan tidak membaca shalawat atas Nabi, lalu beliau bersabda, “Jika diantara kamu shalat, maka hendaklah memulai dengan memuji Tuhannya dan menyanjungnya kemudian membaca shalawat atas Nabi saw kemudian berdo’a dengan do’a yang dia sukai.” 
(HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Al-Hakim) 

Dari Abu Mas’ud ra berkata; Basyir bin Sa’ad bertanya kepada Rasulullah saw, “Ya Rasulullah, Allah memerintahkan kami untuk bershalawat kepada engkau, bagaiman cara kami mengucapkan shalawat atasmu? Beliau diam sebentar dan berkata, “Ucapkanlah; Alloohummaa sholli ‘alaa Muhammad, wa ‘alaa aali Muhammad kamaa shollaita ‘alaa Ibroohim……ilaa akhirihi (sampai khirnya) fil ‘aalamiina innaka hamiidummajiid. Dan membaca salam sebagaimana telah kamu ketahui” 
(HR. Muslim) 

Kemudian berdo’a minta perlindungan dari empat hal yaitu, “Alloohumma innii a’uudzubika min ‘adzaabi jahannama wa min ‘adzabil qobri wa min fitnatil mahyaa wal mamaati wamin fitnatil masiikhid dajjaal.” Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw bersabda, “Ketika diantara kamu sedang tasyahhud (Tahiyat), maka mintalah perlindungan kepada Allah dari empat hal, Nabi berkata, “Alloohummaa innii a’uudzubika……(sampai akhir do’a).” 
(HR. Muttafaq ‘Alaih) 

Kemudian berdo’a lagi dengan do’a-do’a yang dikehenddaki dari kebaikan dunia dan akhirat, dan apabila berdo’a untuk kedua orang tua atau selain keduanya dari orang-orang muslim maka tidaklah mengapa. Adalah hal itu dilakukan dalam shalat fardhu maupun sunat sama saja. Kemudian setelah itu barulah salam dari sebelah kanannya dan ke kirinya dengan mengucapkan “Assalaamu ‘alaikum wa rohmatullooh” 
Dari Ibnu Mas’ud ra berkata, “Sesungguhnya Rasulullah saw adalah ketika salam dari arah kanannya dan baru arah kirinya sehingga terlihat putih pipinya seraya mengucap, “Assalaamu ‘alaikum wa rohmatullooh.” 
(HR. Abu Daud dengan sanad yang shahih) 

Dari Wail bin Hujr ra berkata, “Aku pernah shalat bersama Nabi saw, maka ketika dia salam ke arah kanannya mengucapkan, “Assalaamu ‘alaikum wa rohmatulloohi wa barookaatuh” dan ke arah kirinya juga mengucapkan “Assalaamu ‘alaikum wa rohmatulloohi wa barookaatuh” 
(HR. Abu Daud dengan sanad yang shahih).


14.Jika shalat itu tiga rakaat seperti shalat Maghrib atau empat rakaat seperti Zhuhur, ‘Ashar dan ‘Isya’, membaca tasyahud tersebut beserta shalawat atas Nabi saw kemudian bangkit berdiri bertatakan kedua lututnya dengan mengangkat kedua tangannya sejajar dengan bahu atau sekitar kedua telinganya dengan mengucapkan “Alloohu Akbar” dan meletakkan keduanya yaitu kedua tangannya di atas dadanya seperti dijelaskan sebelumnya dan membaca fatihah saja. Jika pada rakaat ketiga dan keempat dalam shalat zhuhur (misalnya) menambahkan dari al-Fatihah tidaklah mengapa. 

Ketetapan ini sebagaimana petunjuk dari Nabi saw dari riwayat Abi Sa’id ra. 
Kemudian setelah membaca tasyahud (akhir) sesudah rakaat ketiga dari maghrib dan sesudah rakaat keempat dari shalat Zhuhur, Ashar dan ‘Isya’ sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya didalam shalat yang dua rakaat, kemudian salam dari arah kanan dan arah kiri, dan beristighfar tiga kali dan mengucapkan,
“Alloohumma antas salaam wa minkas salaam tabaarokta yaa dzal jalaali wal ikroom” 
(HR. Muslim dari Tsauban ra)

 “Laa Ilaaha illalloohu wahdahu laa syariikalah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-in qodiir” 
(HR. Muslim dari Abu Hurairah ra) 

“Alloohumma laa maani’a limaa a’thoita wa laa mu’thiya limaa mana’tawa laa yanfa’u dzal jaddi minkaljad” 
(HR. Muttafaq ‘Alaih dari Mughirah bin Syu’bah ra)

 “Laa haulaa wa laa quwwata illaa billaah, laa ilaaha illalloohu wa laa na’budu illaa iyyah, lahun ni’matu wa lahul fadhlu wa lahuts tsinaa’ul husni, laa ilaaha illalloohu mukhlishiina lahud diini wa lau karihal kaafiruun.”
Dan bertasbih tiga puluh tiga kali, bertahmid dan bertakbir demikian pula, dan mengucapkan untuk menyempurnakan seratus,
 “Laa ilaaha illalloohu wahdahu laa syariikalahu lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-in qoodiir.” 
(HR. Muslim dari Abu Hurairah ra) 

Dan membaca ayat kursi, al-Ikhlash dan surat mu’awidzatain 
sesudah selesai tiap-tiap shalat 
(HR. Nasa’i, Ibnu Hibban dan Ath-Thabrani dari Abi Amamah ra), 

dan disunnatkan mengulangi masing-masing surat tersebut tiga kali sesudah shalat fajar (Subuh) dan Maghrib. Telah diriwayatkan beberapa hadits tentangnya dari Nabi saw, dan tiap-tiap dzikir itu hukumnya sunat bukanlah fardhu. 
Dan Allah lah yang telah memberikan taufik kepadaku.



https://muslim.or.id/15028-tata-cara-bersedekap-dalam-shalat.html
https://parapencarisyafaat.blogspot.co.id/2014/02/tata-cara-sholat-nabi-muhammad-saw.html

Struktur dan Penyajian Data dalam Komputer. A.    PENGERTIAN FIELD, RECORD, DAN FILE Data terdiri dari kumpulan simbol yang mempunyai a...